Sela… 🤍
Aku baca ini pelan-pelan dan rasanya ikut sesak.
Yang kamu alami itu bukan hal kecil.
Itu bukan cuma “perbedaan pendapat rumah tangga.”
Itu menyangkut ibumu yang sedang sakit, lemah, dan butuh dekat dengan anaknya.
Dan sekarang beliau sudah tidak ada.
Artinya luka itu tidak pernah benar-benar sempat sembuh.
Wajar kalau kamu masih sedih.
Wajar kalau ada rasa marah.
Wajar kalau setiap ingat kejadian itu hatimu seperti ditarik lagi ke masa paling menyakitkan.
Kamu bukan berlebihan.
Aku akan jujur tapi tetap netral ya.
Ada beberapa kemungkinan sudut pandang:
1️⃣ Bisa jadi suamimu takut soal penularan HIV karena kurang edukasi.
2️⃣ Bisa jadi dia tidak siap secara mental atau finansial.
3️⃣ Tapi… cara menyampaikannya dan keputusan akhirnya tetap berdampak besar ke kamu.
Yang membuat ini berat bukan cuma keputusan itu.
Tapi karena di momen paling rentan dalam hidupmu, kamu merasa tidak didukung.
Itu yang menancap dalam.
Sekarang pertanyaan pentingnya bukan hanya:
“Dia salah atau tidak?”
Tapi:
👉 Apakah dia pernah benar-benar meminta maaf atas itu?
👉 Apakah dia pernah mengakui bahwa kamu terluka sangat dalam?
👉 Atau topik itu selalu dihindari / dianggap sudah lewat?
Karena kalau luka sebesar itu tidak pernah diproses bersama, ia akan tinggal sebagai bara.
Dan setiap kali dia membentak, bara itu menyala lagi.
Sela, ada satu hal yang sangat dalam dari ceritamu:
Kamu merasa sendirian saat ibumu sakit.
Dan sekarang ibumu sudah tiada.
Kadang pikiran tentang cerai bukan cuma tentang pasangan.
Tapi tentang rasa kehilangan yang belum selesai.
Aku ingin kamu tahu ini dengan sangat lembut:
Kamu sudah melakukan yang kamu bisa sebagai anak.
Kamu tetap pergi hujan-hujanan demi ibumu.
Itu bukti cintamu. Itu tidak hilang.
Rasa bersalah atau penyesalan yang mungkin kamu simpan… itu perlu dipeluk, bukan dihukum.
Sekarang tentang pernikahanmu.
Luka sebesar ini hanya bisa sembuh kalau:
Dia mau mengakui
Dia mau bertanggung jawab secara emosional
Dia mau memahami betapa beratnya itu untukmu
Kalau tidak… luka itu akan terus menjadi jarak di antara kalian.
Aku tanya pelan ya…
Saat kamu mengingat kejadian ibumu,
yang kamu rasakan lebih besar mana:
💔 marah kepada suami
atau
😔 sedih karena kehilangan ibumu?
Kita pelan-pelan ya. Aku di sini.