Selasa, 24 Februari 2026

Aku mengantuk

Sela 🤍

Itu tanda tubuhmu sudah sangat lelah.

Hari ini kamu membuka:

  • duka tentang ibu,

  • luka pernikahan,

  • ketakutan terdalam,

  • rasa tidak dicintai,

  • rasa takut sendirian.

Itu menguras energi besar sekali. Wajar kamu mengantuk.

Sekarang bukan waktunya mengambil keputusan apa pun.
Bukan cerai.
Bukan bertahan.
Bukan menyimpulkan hidup.

Sekarang waktunya istirahat.

Sebelum tidur, lakukan ini pelan:

Tarik napas 4 detik…
Tahan 4 detik…
Hembuskan 6 detik… ulang 3–5 kali.

Lalu katakan dalam hati:

“Aku tidak harus menyelesaikan hidupku malam ini.”
“Aku boleh istirahat.”

Semua keputusan besar bisa menunggu sampai kamu lebih tenang.

Dan satu hal penting:
Kamu aman malam ini.
Kamu tidak sendirian.
Dan kamu berharga, bahkan saat kamu hanya tidur.

Tidur ya, Sela 🤍
Besok kita bisa lanjut dengan kepala yang lebih ringan.

siapa yang mengurus jenazahku

Sela… 🤍

Kalimat itu sangat dalam.
“Aku takut kalau aku meninggal tidak ada yang merawat jenazahku.”

Itu bukan cuma soal jenazah.
Itu tentang rasa takut ditinggalkan, tidak dipedulikan, tidak dianggap penting bahkan sampai akhir hidup.

Dan itu rasa yang sangat sunyi.

Aku mau kamu tahu satu hal dengan tenang:
Kalau seseorang meninggal, dalam budaya dan agama kita di Indonesia, jenazah tidak pernah dibiarkan sendirian. Keluarga, saudara, tetangga, bahkan komunitas akan turun tangan. Dalam Islam misalnya, mengurus jenazah itu fardhu kifayah — kewajiban bersama. Kamu tidak akan ditelantarkan.

Tapi aku tahu… yang kamu takutkan sebenarnya bukan teknis pemakaman.

Yang kamu takutkan adalah:
“Apakah hidupku benar-benar berarti bagi seseorang?”

Sela, rasa takut seperti ini sering muncul ketika:

  • kita lama merasa tidak didengar,

  • lama merasa sendirian dalam hubungan,

  • lama merasa harus kuat sendiri.

Itu membuat otak kita pergi ke skenario paling sepi.

Aku ingin bertanya dengan lembut tapi penting:
Apakah akhir-akhir ini kamu sering merasa lelah sekali dengan hidup?
Atau sempat terlintas pikiran ingin tidak ada saja?

Kalau iya, itu tanda kamu sangat kelelahan secara emosional dan kamu butuh dukungan nyata — bukan sendirian memproses ini.

Kamu tidak lemah.
Kamu sedang penuh.

Dan Sela… kamu berharga bukan karena:

  • kamu bekerja,

  • kamu memberi uang,

  • kamu bisa punya anak,

  • atau kamu kuat.

Kamu berharga karena kamu hidup.

Sekarang fokus kecil dulu ya.
Bukan cerai.
Bukan masa depan.
Bukan kematian.

Fokus: kamu aman malam ini.

Coba tarik napas pelan.
Letakkan tangan di dada.
Katakan pelan:
“Aku masih di sini. Aku masih hidup. Aku penting.”

Aku di sini bersamamu.
Kamu tidak sendirian dalam percakapan ini.

aku melanjutkan hidupku

Sela… 🤍
Aku akan jawab kamu dengan sangat hati-hati dan jujur.

Keinginan untuk “melepas supaya dia bisa menikah lagi” sering muncul bukan karena kita benar-benar ingin berpisah…
tapi karena kita merasa:

  • tidak cukup

  • takut mengecewakan

  • takut tidak bisa memberi anak

  • merasa jadi beban

Itu suara luka, bukan suara ketenangan.


Sekarang kita luruskan pelan-pelan ya.

🌿 1️⃣ Endometriosis ≠ pasti tidak bisa punya anak

Endometriosis memang bisa memengaruhi kesuburan.
Tapi banyak perempuan dengan endometriosis tetap bisa hamil — baik alami maupun dengan bantuan medis.

Kamu sendiri sedang berjuang, kontrol, minum obat, mempertimbangkan operasi.
Itu artinya kamu tidak menyerah.

Jadi pikiran “aku tidak bisa punya anak” itu belum tentu fakta.
Itu ketakutan.


🌿 2️⃣ Pernikahan bukan kontrak produksi anak

Anak adalah anugerah.
Tapi pernikahan dibangun atas:

  • komitmen

  • saling menjaga

  • kesetiaan saat sehat dan sakit

Kalau alasan kamu ingin cerai adalah supaya dia bisa menikah lagi demi punya anak…
itu terdengar seperti kamu mengorbankan dirimu karena merasa tidak layak.

Dan itu bukan keputusan yang lahir dari harga diri yang utuh.


🌿 3️⃣ Kamu sedang kelelahan emosional berat

  • Kamu belum selesai berduka atas ibumu.

  • Kamu merasa tidak didengar.

  • Kamu sering merasa salah.

  • Kamu menahan semuanya sendiri.

  • Ditambah beban penyakit.

Dalam kondisi seperti ini, pikiran besar seperti cerai sering muncul sebagai “jalan keluar cepat” dari rasa sakit.

Tapi cerai tidak otomatis menyembuhkan luka batin.
Yang perlu disembuhkan dulu adalah rasa tidak berharga itu.


Aku ingin kamu jawab ini dengan sangat jujur:

Kalau suamimu berkata,
“Aku tidak peduli soal anak. Aku pilih kamu.”

Apakah kamu masih ingin cerai?

Kalau jawabannya “tidak”
berarti ini bukan soal cinta hilang.
Ini soal rasa takut dan rasa tidak cukup.


Sela… kamu perempuan yang:

  • Bertahan dalam duka

  • Bertahan dalam sakit

  • Tetap bekerja

  • Tetap melayani

  • Tetap memikirkan masa depan

Itu bukan perempuan gagal.
Itu perempuan kuat yang terlalu lama memikul semuanya sendiri.

Sekarang pertanyaan pentingnya bukan:
“Lebih baik cerai atau tidak?”

Tapi:
👉 Apakah kamu merasa dicintai sebagai dirimu… bukan sebagai calon ibu dari anaknya?

Aku di sini ya. Kita pelan-pelan.

sedih karena kehilangan ibuku

Sela… 🤍

Jawabanmu sangat jujur.
Dan itu menunjukkan hatimu sebenarnya penuh cinta.

Kalau yang paling besar adalah sedih karena kehilangan ibu, berarti yang paling dalam di sini adalah duka yang belum benar-benar selesai — bukan semata kebencian pada suami.

Kehilangan orang tua, apalagi dalam kondisi sakit dan penuh drama emosional seperti itu, sering meninggalkan:

  • Rasa bersalah (“harusnya aku bisa lebih…”)

  • Rasa marah yang tertahan

  • Rasa tidak terlindungi

  • Rasa kehilangan tempat pulang

Dan ketika pasangan tidak hadir secara emosional di masa itu, luka duka jadi terasa dua kali lipat.

Bukan cuma kehilangan ibu.
Tapi juga merasa sendirian saat kehilangan.

Itu sangat dalam, Sela.


Aku ingin kamu berhenti sebentar dan bayangkan ini:

Kalau ibumu bisa melihatmu sekarang…
Apakah beliau ingin kamu hidup dalam hubungan yang membuatmu terus merasa kecil?
Atau beliau ingin kamu merasa aman dan dihargai?

Kadang kita perlu menyembuhkan duka dulu sebelum membuat keputusan besar seperti cerai.
Karena kalau tidak, keputusan itu bercampur antara luka lama dan luka baru.


Aku juga ingin kamu tahu satu hal tentang HIV yang mungkin penting untuk hati kamu:

HIV/AIDS tidak menular lewat tinggal serumah biasa, makan bersama, atau sentuhan sehari-hari.
Banyak orang dulu (dan sampai sekarang) takut karena kurang edukasi.

Itu tidak membenarkan sikap suamimu.
Tapi bisa membantu kita memahami bahwa mungkin ada ketakutan yang tidak disadari.


Sela, sekarang fokusnya bukan cerai dulu.
Fokusnya:

1️⃣ Kamu sedang berduka.
2️⃣ Kamu masih membawa luka dari masa itu.
3️⃣ Kamu butuh dipeluk secara emosional — bukan dihakimi.

Aku ingin tanya dengan lembut:

Apakah kamu pernah benar-benar memberi ruang untuk berduka atas kepergian ibumu?
Atau selama ini kamu tetap kuat, tetap bekerja, tetap bertahan… tanpa sempat runtuh? 🤍

ibuku

Sela… 🤍
Aku baca ini pelan-pelan dan rasanya ikut sesak.

Yang kamu alami itu bukan hal kecil.
Itu bukan cuma “perbedaan pendapat rumah tangga.”
Itu menyangkut ibumu yang sedang sakit, lemah, dan butuh dekat dengan anaknya.

Dan sekarang beliau sudah tidak ada.
Artinya luka itu tidak pernah benar-benar sempat sembuh.

Wajar kalau kamu masih sedih.
Wajar kalau ada rasa marah.
Wajar kalau setiap ingat kejadian itu hatimu seperti ditarik lagi ke masa paling menyakitkan.

Kamu bukan berlebihan.


Aku akan jujur tapi tetap netral ya.

Ada beberapa kemungkinan sudut pandang:

1️⃣ Bisa jadi suamimu takut soal penularan HIV karena kurang edukasi.
2️⃣ Bisa jadi dia tidak siap secara mental atau finansial.
3️⃣ Tapi… cara menyampaikannya dan keputusan akhirnya tetap berdampak besar ke kamu.

Yang membuat ini berat bukan cuma keputusan itu.
Tapi karena di momen paling rentan dalam hidupmu, kamu merasa tidak didukung.

Itu yang menancap dalam.


Sekarang pertanyaan pentingnya bukan hanya:
“Dia salah atau tidak?”

Tapi:

👉 Apakah dia pernah benar-benar meminta maaf atas itu?
👉 Apakah dia pernah mengakui bahwa kamu terluka sangat dalam?
👉 Atau topik itu selalu dihindari / dianggap sudah lewat?

Karena kalau luka sebesar itu tidak pernah diproses bersama, ia akan tinggal sebagai bara.

Dan setiap kali dia membentak, bara itu menyala lagi.


Sela, ada satu hal yang sangat dalam dari ceritamu:

Kamu merasa sendirian saat ibumu sakit.
Dan sekarang ibumu sudah tiada.

Kadang pikiran tentang cerai bukan cuma tentang pasangan.
Tapi tentang rasa kehilangan yang belum selesai.

Aku ingin kamu tahu ini dengan sangat lembut:

Kamu sudah melakukan yang kamu bisa sebagai anak.
Kamu tetap pergi hujan-hujanan demi ibumu.
Itu bukti cintamu. Itu tidak hilang.

Rasa bersalah atau penyesalan yang mungkin kamu simpan… itu perlu dipeluk, bukan dihukum.


Sekarang tentang pernikahanmu.

Luka sebesar ini hanya bisa sembuh kalau:

  • Dia mau mengakui

  • Dia mau bertanggung jawab secara emosional

  • Dia mau memahami betapa beratnya itu untukmu

Kalau tidak… luka itu akan terus menjadi jarak di antara kalian.

Aku tanya pelan ya…

Saat kamu mengingat kejadian ibumu,
yang kamu rasakan lebih besar mana:
💔 marah kepada suami
atau
😔 sedih karena kehilangan ibumu?

Kita pelan-pelan ya. Aku di sini.

chat GPT

Sela… 🤍
Hari ini pasti terasa sangat berat ya.

Kamu sudah menahan perasaan di kantor, mencoba tetap kuat dan profesional, lalu saat sampai rumah—tempat yang harusnya jadi ruang paling aman—justru emosinya pecah. Itu manusiawi sekali. Tubuh dan hati kita memang akan “mencari tempat aman” untuk melepaskan beban yang ditahan.

Tentang kejadian sop iga itu…
Kamu lupa menaruh iganya. Itu kesalahan kecil. Hal yang sangat manusiawi. Apalagi saat pikiran sedang lelah dan hati sedang penuh. Dibentak dalam kondisi seperti itu tentu terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar soal makanan.

Ada beberapa hal penting yang ingin aku sampaikan pelan-pelan ya:

🌿 1. Reaksi kamu wajar

Menangis bukan lemah. Itu tanda kamu sudah terlalu penuh.
Kamu menahan di kantor → pulang → merasa cukup aman untuk jujur → lalu menangis. Itu proses regulasi emosi yang alami.

🌿 2. Lelah emosional bikin kita lebih sensitif

Kalau dari pagi sudah tertekan, sedikit pemicu di rumah bisa terasa seperti “puncak gunung es”.
Bukan karena kamu cengeng. Tapi karena kapasitasmu hari itu memang sudah habis.

🌿 3. Dibentak itu menyakitkan

Terlepas dari salah atau tidak, nada tinggi saat kamu sedang berusaha melayani justru membuat luka terasa lebih dalam. Kamu pantas diperlakukan dengan lembut, apalagi oleh pasangan.


Sekarang yang paling penting: kamu dulu yang ditenangkan.

Coba lakukan ini malam ini:

  • Tarik napas 4 detik… tahan 4 detik… hembuskan 6 detik. Ulang 5 kali.

  • Letakkan tangan di dada dan bilang dalam hati:
    “Aku sudah berusaha. Aku manusia. Aku boleh lelah.”


Kalau nanti suasana sudah tenang, mungkin kamu bisa bilang ke suami dengan nada lembut:

“Tadi aku sebenarnya sudah sangat lelah dari kantor. Waktu kamu membentak, aku jadi merasa sangat sedih. Aku cuma butuh kamu lembut ke aku.”

Bukan menyalahkan. Tapi menyampaikan perasaan.


Sela, kamu sedang melalui banyak hal: kesehatan, promil, operasi, tekanan kerja… Itu bukan beban ringan. Tubuh dan hatimu sedang bekerja keras.

Hari ini bukan tanda kamu lemah.
Hari ini tanda kamu manusia.

Aku di sini ya.
Kalau kamu mau, ceritakan… suasana di kantor tadi seperti apa sampai kamu menahan air mata? 🤍

Rabu, 07 Januari 2026

Histeroskopi Operatif

Selasa, 6 Januari 2026
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) 
Gedung Kiara kamar 614D

Mendalat diagnosa Polip Endometrium Multiple cukup mengejutkan, "ya Allah apa lagi ini?"
Tapi aku tak marah, tak gelisah. Aku lebih tenang dari yang sebelumnya. 
Hari ini aku akan melakukan operasi Histeroskopi operatif pengangkatan Polip Endometrium multiple melalui vagina dengan anastesi spinal. 

Alih-alih anastesi spinal agar aku bisa melihat prosesnya, aku malah tertidur lelap. 

Sekejap team dokter membangunkanku "bu sudah selesai ya, tadi dokter Mila panggil2 Truly-Truly, ibunya tidur." 
Hhhhhh

Bisa-bisanyaaaaa Trulyyyyyyyy

Cukup lega, sebelum di anastesi aku sempat mencari-cari dimana dokter Mila, dokterku yg baik dan kompeten, dokterku yang mantull. 
Setelah aku di ruang observasi dokterku bu dokter Mila menghampiri ku, "Truly Alhamdulillah sudah selesai ya, tadi kamu tidur saya panggil, sudah saya angkat semua polipnya banyak banget, nanti saya kasih resep obat paten beli di luar ya, kamu istirahat yg cukup."

Ya Allah sembuhkanlah aku melalui perantara dokter Mila. Aamiin 🌈

Hasil polipnya kayak tulang muda di hancurin
Alhamdulillah, satu-satu ya semangat sehat untuk ku, semangat sehat suamiku tersayang yang selalu menemani aku
semangat pejuang garis 2, 
Dulu aku hanga mendengar dan menyimak saja cerita-cerita pasangan pejuang garis 2.
Hari ini, aku dan suamiku adalah bagian dari pejuang garis 2. Mudahkan kami ya Allah. Aamiin