Run To Remember
this is travel story about inta wa ana .
Minggu, 14 Juni 2026
Brigita P. Widyarini
still alive
Kamis, 26 Maret 2026
Nodul Endometriosis subkutis pfanentiel peri scar
Selasa, 24 Februari 2026
Aku mengantuk
Sela 🤍
Itu tanda tubuhmu sudah sangat lelah.
Hari ini kamu membuka:
duka tentang ibu,
luka pernikahan,
ketakutan terdalam,
rasa tidak dicintai,
rasa takut sendirian.
Itu menguras energi besar sekali. Wajar kamu mengantuk.
Sekarang bukan waktunya mengambil keputusan apa pun.
Bukan cerai.
Bukan bertahan.
Bukan menyimpulkan hidup.
Sekarang waktunya istirahat.
Sebelum tidur, lakukan ini pelan:
Tarik napas 4 detik…
Tahan 4 detik…
Hembuskan 6 detik… ulang 3–5 kali.
Lalu katakan dalam hati:
“Aku tidak harus menyelesaikan hidupku malam ini.”
“Aku boleh istirahat.”
Semua keputusan besar bisa menunggu sampai kamu lebih tenang.
Dan satu hal penting:
Kamu aman malam ini.
Kamu tidak sendirian.
Dan kamu berharga, bahkan saat kamu hanya tidur.
Tidur ya, Sela 🤍
Besok kita bisa lanjut dengan kepala yang lebih ringan.
siapa yang mengurus jenazahku
Sela… 🤍
Kalimat itu sangat dalam.
“Aku takut kalau aku meninggal tidak ada yang merawat jenazahku.”
Itu bukan cuma soal jenazah.
Itu tentang rasa takut ditinggalkan, tidak dipedulikan, tidak dianggap penting bahkan sampai akhir hidup.
Dan itu rasa yang sangat sunyi.
Aku mau kamu tahu satu hal dengan tenang:
Kalau seseorang meninggal, dalam budaya dan agama kita di Indonesia, jenazah tidak pernah dibiarkan sendirian. Keluarga, saudara, tetangga, bahkan komunitas akan turun tangan. Dalam Islam misalnya, mengurus jenazah itu fardhu kifayah — kewajiban bersama. Kamu tidak akan ditelantarkan.
Tapi aku tahu… yang kamu takutkan sebenarnya bukan teknis pemakaman.
Yang kamu takutkan adalah:
“Apakah hidupku benar-benar berarti bagi seseorang?”
Sela, rasa takut seperti ini sering muncul ketika:
kita lama merasa tidak didengar,
lama merasa sendirian dalam hubungan,
lama merasa harus kuat sendiri.
Itu membuat otak kita pergi ke skenario paling sepi.
Aku ingin bertanya dengan lembut tapi penting:
Apakah akhir-akhir ini kamu sering merasa lelah sekali dengan hidup?
Atau sempat terlintas pikiran ingin tidak ada saja?
Kalau iya, itu tanda kamu sangat kelelahan secara emosional dan kamu butuh dukungan nyata — bukan sendirian memproses ini.
Kamu tidak lemah.
Kamu sedang penuh.
Dan Sela… kamu berharga bukan karena:
kamu bekerja,
kamu memberi uang,
kamu bisa punya anak,
atau kamu kuat.
Kamu berharga karena kamu hidup.
Sekarang fokus kecil dulu ya.
Bukan cerai.
Bukan masa depan.
Bukan kematian.
Fokus: kamu aman malam ini.
Coba tarik napas pelan.
Letakkan tangan di dada.
Katakan pelan:
“Aku masih di sini. Aku masih hidup. Aku penting.”
Aku di sini bersamamu.
Kamu tidak sendirian dalam percakapan ini.
aku melanjutkan hidupku
Sela… 🤍
Aku akan jawab kamu dengan sangat hati-hati dan jujur.
Keinginan untuk “melepas supaya dia bisa menikah lagi” sering muncul bukan karena kita benar-benar ingin berpisah…
tapi karena kita merasa:
tidak cukup
takut mengecewakan
takut tidak bisa memberi anak
merasa jadi beban
Itu suara luka, bukan suara ketenangan.
Sekarang kita luruskan pelan-pelan ya.
🌿 1️⃣ Endometriosis ≠ pasti tidak bisa punya anak
Endometriosis memang bisa memengaruhi kesuburan.
Tapi banyak perempuan dengan endometriosis tetap bisa hamil — baik alami maupun dengan bantuan medis.
Kamu sendiri sedang berjuang, kontrol, minum obat, mempertimbangkan operasi.
Itu artinya kamu tidak menyerah.
Jadi pikiran “aku tidak bisa punya anak” itu belum tentu fakta.
Itu ketakutan.
🌿 2️⃣ Pernikahan bukan kontrak produksi anak
Anak adalah anugerah.
Tapi pernikahan dibangun atas:
komitmen
saling menjaga
kesetiaan saat sehat dan sakit
Kalau alasan kamu ingin cerai adalah supaya dia bisa menikah lagi demi punya anak…
itu terdengar seperti kamu mengorbankan dirimu karena merasa tidak layak.
Dan itu bukan keputusan yang lahir dari harga diri yang utuh.
🌿 3️⃣ Kamu sedang kelelahan emosional berat
Kamu belum selesai berduka atas ibumu.
Kamu merasa tidak didengar.
Kamu sering merasa salah.
Kamu menahan semuanya sendiri.
Ditambah beban penyakit.
Dalam kondisi seperti ini, pikiran besar seperti cerai sering muncul sebagai “jalan keluar cepat” dari rasa sakit.
Tapi cerai tidak otomatis menyembuhkan luka batin.
Yang perlu disembuhkan dulu adalah rasa tidak berharga itu.
Aku ingin kamu jawab ini dengan sangat jujur:
Kalau suamimu berkata,
“Aku tidak peduli soal anak. Aku pilih kamu.”
Apakah kamu masih ingin cerai?
Kalau jawabannya “tidak”
berarti ini bukan soal cinta hilang.
Ini soal rasa takut dan rasa tidak cukup.
Sela… kamu perempuan yang:
Bertahan dalam duka
Bertahan dalam sakit
Tetap bekerja
Tetap melayani
Tetap memikirkan masa depan
Itu bukan perempuan gagal.
Itu perempuan kuat yang terlalu lama memikul semuanya sendiri.
Sekarang pertanyaan pentingnya bukan:
“Lebih baik cerai atau tidak?”
Tapi:
👉 Apakah kamu merasa dicintai sebagai dirimu… bukan sebagai calon ibu dari anaknya?
Aku di sini ya. Kita pelan-pelan.
sedih karena kehilangan ibuku
Sela… 🤍
Jawabanmu sangat jujur.
Dan itu menunjukkan hatimu sebenarnya penuh cinta.
Kalau yang paling besar adalah sedih karena kehilangan ibu, berarti yang paling dalam di sini adalah duka yang belum benar-benar selesai — bukan semata kebencian pada suami.
Kehilangan orang tua, apalagi dalam kondisi sakit dan penuh drama emosional seperti itu, sering meninggalkan:
Rasa bersalah (“harusnya aku bisa lebih…”)
Rasa marah yang tertahan
Rasa tidak terlindungi
Rasa kehilangan tempat pulang
Dan ketika pasangan tidak hadir secara emosional di masa itu, luka duka jadi terasa dua kali lipat.
Bukan cuma kehilangan ibu.
Tapi juga merasa sendirian saat kehilangan.
Itu sangat dalam, Sela.
Aku ingin kamu berhenti sebentar dan bayangkan ini:
Kalau ibumu bisa melihatmu sekarang…
Apakah beliau ingin kamu hidup dalam hubungan yang membuatmu terus merasa kecil?
Atau beliau ingin kamu merasa aman dan dihargai?
Kadang kita perlu menyembuhkan duka dulu sebelum membuat keputusan besar seperti cerai.
Karena kalau tidak, keputusan itu bercampur antara luka lama dan luka baru.
Aku juga ingin kamu tahu satu hal tentang HIV yang mungkin penting untuk hati kamu:
HIV/AIDS tidak menular lewat tinggal serumah biasa, makan bersama, atau sentuhan sehari-hari.
Banyak orang dulu (dan sampai sekarang) takut karena kurang edukasi.
Itu tidak membenarkan sikap suamimu.
Tapi bisa membantu kita memahami bahwa mungkin ada ketakutan yang tidak disadari.
Sela, sekarang fokusnya bukan cerai dulu.
Fokusnya:
1️⃣ Kamu sedang berduka.
2️⃣ Kamu masih membawa luka dari masa itu.
3️⃣ Kamu butuh dipeluk secara emosional — bukan dihakimi.
Aku ingin tanya dengan lembut:
Apakah kamu pernah benar-benar memberi ruang untuk berduka atas kepergian ibumu?
Atau selama ini kamu tetap kuat, tetap bekerja, tetap bertahan… tanpa sempat runtuh? 🤍