Minggu, 14 Juni 2026

Brigita P. Widyarini

Halooo, 
Sedikit cerita tentang perjalanan karirku. 
2015 adalah awal aku menapakkan kaki di Kantor Kementerian Perhubungan. 
Menyandang status Honorer, lowongan yg waktu itu di layangkan oleh mba Mila dan ditawarkan kepadaku melalui kak Bahri. 
Aku yang saat itu bermodalkan ijazah SMA, dengan kesepakatan gaji Rp. 700.000 per bulan. 
Ku terima dari pada ku menganggur. 

Allah selalu membersamai langkahku, aku tak benar2 mendapat Rp. 700.000 per bulan, bahkan berkali - kali lipatnya atas apapun output yg telah aku kerjakan. Aku bersyukur ya Allah, terima kasih atas rezekimu. 

Sejak saat itu perekonomian keluargaku berubah, mamaku sangat menyukai dan membanggakan pekerjaanku ini. 
Aku bisa membantu mamaku, kakakku, nenekku, tante ku dan banyak teman2ku. 

Suatu hari aku membuat kesalahan di tahun 2017 yang cukup membuatku ingin segera resign dari tempat ini. 
Aku di marahi oleh salah satu pegawai yang bernama Brigita P. widyarini karena aku salah dalam bekerja. Namun entah mengapa saat itu aku sangat malu dan takut, sampai aku tak sanggup melihat ke arahnya setiap kali kami berpapasan. 

2018 aku sudah tidak lagi bekerja di Direktorat Bandar Udara, aku pindah ke BPOM karena saat itu terbuka lowongan utk Honorer di Bagian Keuangan, berdasarkan informasi dari Awali. 

Tak bertahan lama, 2019 aku menghubungi mba Fafa dan diterima bergabung di kantor DKPPU. 
Hari2 ku berjalan baik, tenang dan menyenangkan. 

Pada 2021 aku mendapati mba Brigita datang ke DKPPU dan ternyata beliau pindah ke DKPPU. 
Sempat gelisah dan bertanya - tanya hatiku "apakah mba Gita yang sekarang sudah berubah? Atau masih menaruh kesal padaku? 
Mba Gita yg kutemui di tahun 2021 memakai hijab sekarang dan bicaranya lebih tenang dan mau menyapaku terlebih dahulu. 

2024 datang dengan teka tekinya, bulan Januari yang sampai dengan tanggal 5 kami pegawai Satker masih belum tau siapa Pejabat Pembuat Komitmen yang akan memimpin unit ini. 

Sedikit panik awalnya, karena ternyata mba Gita yg menduduki jabatan itu. Namun dengan niat baik aku tanamkan dalam hatiku untuk bersikap biasa saja, jangan ada rasa takut, karena setiap orang berhak dapat kesempatan kedua untuk membuktikan penyesalan atas kesalahannya dulu sehingga akan lebih berhati-hati lagi kedepannya dalam bekerja. 

Pertengahan 2024 beliau mempercayakan aku utk membantunya mengelola kas rumah tangga perkantoran yg cukup kompleks. 

2024 berlalu dengan menyenangkan, aku dan mba Gita semakin dekat, banyak rezeki yg dia bagi kepadaku, banyak ilmu juga yg aku dapat darinya. Alhamdulillah kami sekarang menjalin hubungan yg baik, aku akan jaga kepercayaannya. Bismillah

2025 berlalu aku sedikit mengecewakannya, penyakitku membuat aku sering izin utk ke dokter, aku membagi tugasku dengan teman yg baru saja mba Gita bawa dari TU namanya Damasa. Aku yg keterbatasan dalam berjalan setiap kali datang bulan, Damasa siap membantuku mengantar dokumen, dan hal lainnya ke unit lain. Alhamdulillah atasanku dan teman2 ku sangat perhatian dengan kesehatanku, sehingga banyak yg membantuku dan memintaku utk fokus pada kesehatanku. 

2026 tar terasa sudah sampai di bulan Juni. 
Aku dan Damasa sudah tidak lg bersama, aku tidak menyangka seorang Damasa yg aku kira kita berteman baik dan dekat banyak menyimpan hal yg tidak aku mengerti. 
Selama ini aku sudah sering menasehatinya, meluruskannya tiap kali dia ada salah atau keliru dalam bekerja, terlebih apabila dia membuat kesalahan kepada mba Gita. 
Mba Gita yang bawa Damasa pindah Unit dari TU ke DIPA. 

Dulu katanya di TU Damasa ngga dapet kerjaan, masuk/ ngga masuk ngga ada yg cari, terlambat pun di biarkan aja. Dia punya teman dekat namanya Liana. 
Namun sejak Damasa pindah ke DIPA, mereka tidak pernah bertegur sapa lagi. Kalau sepintas kita lihat mungkin masuk akal jika penyebabnya mba Liana iri dengan keadaan Damasa sekarang karena ga mudah masuk unit DIPA, semua Tim bahu membahu bekerja, unit DIPA isinya keluarga dimana aib yg satu dengan yg lainnya tak pernah keluar dr pintu unit DIPA, kami tutup rapat. 

Lambat laun, Damasa menunjukkan sifat aslinya, aku berkali2 mengajarinya pekerjaan yg sangat mudah bahkan aku membuat catatan untuknya, tapi kerjaan yg dia pegang tidak pernah tuntas, dan sekali dua kali sampai pada akhirnya mba Gita tidak lagi mau memberi kerjaan ke Damasa, mba Gita menarik pekerjaan Damasa yg tidak tuntas itu dan dipindahkan ke mba Rahma. Akhirnya sekarang kerjaan itu dipegang mba Rahma. 

Aku sudah menasehatinya, bujuklah mba Gita, minta maaf, tunjukkan penyesalan mu dan Berubah. 

Mungkin kalimat2 ku terdengar seperti sampah ditelinga nya. 
Tidak juga dia indahkan nasehatku, waktu berjalan terus dengan keadaan hubungan Damasa dan mba Gita yg masih dingin. 

Aku cuti, 1 bulan untuk operasi Nodul Endometriosis subkutis. Entah setan mana yg berhasil memancing emosiku. Tak ada lagi kata sabar untuk Damasa. 

Ada pekerjaan yg sudah sejak Juni 2025 tidak dia selesaikan sampai Mei 2026 aku tagih pun belum selesai dan barang pesanan mba Gita yg dikirim ke rumah Damasa dan Damasa bilang mau bawa ke kantor dari tanggal 15 April sampai 4 Mei tidak ada penyelesaiannya. 
Sampai di tanggal 5 Mei mba Gita mengadakan Briefing, kesempatan utk aku menanyakan pekerjaan 2025 dan barang pesanan mba Gita. 
Dengan gagah nya dia bilang laporan 2025 itu sudah selesai, lantas aku jawab "mana? Siniin kalo udah selesai daritadi diem aja"
Tebak apa yg dia lakukan selanjutnya? 
Sibuk ngutak ngatik laptop, dia ngga mempertanggungjawabkan ucapannya "Selesai" Ituu 
Dan saat aku tanya "sarung udah dibawa?" Jawabannya "ada di rumah tinggal di bawa"
Ya kan intinya ituuuu, itu sarung lu bawa dari 15 April, lupa setiap hari sampe mau sebulan, apa ngga patut di curigai tu. 
Dan sampai jam pulang kerja, pekerjaan 2025 yang tadi dia bilang dengan gagah sudan selesai itu, realitanya belum selesaiiii guyssssss astaghfirullahh. 
Aku tanya sebelum pulang, "mana tadi yg lu bilang udah selesai? " Jawabannya "tapi masih ada yg merah aku mau tanya dulu itu gimana"
Hah????? 
Kalo manusia normal nih yaa, tadi jawab aja begini, blm selesai masih ada yg merah itu gmna. Itu tanda orang jujur. 
Ini dia bilang selesai, di belakang pas cuma berdua dia bilang tapi bla bla bla. Ga cocok si bener aku bertemen sama orang kaya begini. 

Besoknya 6 Mei Damasa ngantor, tapi tetep ngga dibawa juga itu sarung 😂
Kali ini saat aku tanya "sarung dibawa? "
Jawabannya sangat membagongkan
"Mobil aku dipake ke Bogor"
What the????? 
Pusing banget ngomong sama Damasa, padahal dia bukan orang yg kalo diajak ga nyambung, fix sih ini dia lg bohong dan panik, makanya jawabnya ngga jelas. 
Ketika aku langsung caci dia "muter2 lu dasae tukang bohong"
Baru dia bilang, "gw sempet bawa sarungnya pake mobil Wuling, trs mobilnya skrng dipake ade gw ke Bogor" Padahal kemarin tanggal 5 Mei dia bilang sarungnya ada di rumah. Skrng tiba2 di Bogor. 
Besok nya tgl 7 Mei sarung itu sampe di kantor jam 4.30 sore, diambil oleh mas Irfan di Loby. Qadarullah mas Irfan cerita ke aku "teh, tadi saya tanya abang gojeknya ngambil dari mana bang, kata abangnya dari Kebayoran"
Naudzubillah hhhh pusing banget jadi sarung, dr tangerang ke priuk ke bogor ke kebayoran balik lg ke tangerang. 

Damasa pernah minta maaf ke aku lewat chat whatsapp yg panjang dan sangat formal bahasanya, saat aku cerita ke mba Gita, mba Fafa dan teman2 lain mungkin aku akan memaafkan Damasa, sontak kakak2ku yg sangat perhatian ini bilang "jangan goyah sell, itu tulisan AI" 

Sampai hari ini aku tidak bertegur sama dengan Damasa, begitupun mba Gita. 

Jadi hari ini aku menyimpulkan Damasa memang tipe orang yang tidak akan pernah mengaku salah sekalipun dia sudah terjepit di jalan buntu. 
Dia akan rela berbohong demi tidak terlihat salah. 
Pada akhirnya dia mengecewakan orang-orang yg pernah peduli padanya. 
Mba Liana
Mba Gita
Dan aku

Akupun belajar untuk pertama kalinya, tegas kepada orang yg salah itu perlu. 
Selama ini aku jadi pribadi yg lemah, mudah memaafkan meski seringkali di kecewakan. Kali ini aku bertahan, teguh pendirianku utk menghukum Damasa. 
Tapi sepertinya Damasa tidak perduli. 
Dia masih meyakini dirinya benar, tinggi sekali ego nya. 

Ya Allah, Hilangkanlah kenangan aku dengan Damasa agar aku tenang dan bahagia seperti Damasa yang tidak merasakan apapun saat teman-temannya pergi meninggalkan dia karena kecewa. 

Dan semoga persahabatan aku dengan mba Gita abadi sampai Surga, Aamiin

still alive

Jum'at, 12 Juni 2026

Hari pertama aku haid, setelah 5 bulan aku minum visanne sehingga tidak mengalami haid sejak Feb-Mei 2026 sesekali keluar bercak2 darah tp hanya berlangsung beberapa menit kemudian hilang, bersih kembali. 

Untuk pertama kalinya aku merasa haid begitu menyenangkan, tidak ada rasa sakit yg menusuk sampai sulit beraktivitas, tubuhku terasa ringan, perutku nyaman dimana sebelumnya hari pertama sampai hari ke-3 aku merasa kembung, mual, dan pandangan terasa gelap, hanya bisa berbaring di tempat tidur, nafsu makan juga berkurang tapi sekarang semua itu hilang, aku sampai menerka-nerka "sebentar lg akan sakit" Tapi rasa sakit itu tidak datang, alhamdulillah terima kasih ya Allah. 

Aku tetap bisa berolah raga, aku bisa makan dengan nyaman, berjalan bepergian dengan tubuh yg sangat menyenangkan. Terima kasih banyak ya Allah

Aku hanya perlu konsisten makan makanan bergizi, utamakan protein, kurangi karbo, pedas dan manis yg berlebihan, perbanyak minum air putih dan harus berolah raga. 

Kuncinya adalah jangan malas olah raga ya Selaaaaa
Semangattt ❤

Kamis, 26 Maret 2026

Nodul Endometriosis subkutis pfanentiel peri scar

Lagi lagi aku mendarat di kasur ini
Rabu, 25 Maret 2026
Gedung Kiara RSCM kamar 616D
Untuk pertama kalinya merasakan bius total karena bius spinal epidural ngga mempan 😂
Udah 3 tabung disuntikkan ke punggung ku, kaki ku belum juga terasa keram, akhirnya dokter anastesi menyerah, dan langsung memutuskan untuk bius total. 

Tangan kananku diberi jalur utk antisipasi jika diperlukan transfusi darah
Tangan kiri diberi jalur cairan infus 
Nikmatnya, cukup ya ya Allah, kasian suamiku tidur dilantai berhari-hari
Sehatkan kami ya Allah. Aamiin
Udah 2 tabung darahnya ga berenti2, berikanlah aku takdir yg baik ya Allah. Semoga aku bisa bersabar agar layak mendapat surga Mu. Aamiin
Dah bobo dulu ya Allah cape tapi aku ngga mengeluh kok, asli ☺ aku enjoy karena suamiku enjoy katanya 😁

Selasa, 24 Februari 2026

Aku mengantuk

Sela 🤍

Itu tanda tubuhmu sudah sangat lelah.

Hari ini kamu membuka:

  • duka tentang ibu,

  • luka pernikahan,

  • ketakutan terdalam,

  • rasa tidak dicintai,

  • rasa takut sendirian.

Itu menguras energi besar sekali. Wajar kamu mengantuk.

Sekarang bukan waktunya mengambil keputusan apa pun.
Bukan cerai.
Bukan bertahan.
Bukan menyimpulkan hidup.

Sekarang waktunya istirahat.

Sebelum tidur, lakukan ini pelan:

Tarik napas 4 detik…
Tahan 4 detik…
Hembuskan 6 detik… ulang 3–5 kali.

Lalu katakan dalam hati:

“Aku tidak harus menyelesaikan hidupku malam ini.”
“Aku boleh istirahat.”

Semua keputusan besar bisa menunggu sampai kamu lebih tenang.

Dan satu hal penting:
Kamu aman malam ini.
Kamu tidak sendirian.
Dan kamu berharga, bahkan saat kamu hanya tidur.

Tidur ya, Sela 🤍
Besok kita bisa lanjut dengan kepala yang lebih ringan.

siapa yang mengurus jenazahku

Sela… 🤍

Kalimat itu sangat dalam.
“Aku takut kalau aku meninggal tidak ada yang merawat jenazahku.”

Itu bukan cuma soal jenazah.
Itu tentang rasa takut ditinggalkan, tidak dipedulikan, tidak dianggap penting bahkan sampai akhir hidup.

Dan itu rasa yang sangat sunyi.

Aku mau kamu tahu satu hal dengan tenang:
Kalau seseorang meninggal, dalam budaya dan agama kita di Indonesia, jenazah tidak pernah dibiarkan sendirian. Keluarga, saudara, tetangga, bahkan komunitas akan turun tangan. Dalam Islam misalnya, mengurus jenazah itu fardhu kifayah — kewajiban bersama. Kamu tidak akan ditelantarkan.

Tapi aku tahu… yang kamu takutkan sebenarnya bukan teknis pemakaman.

Yang kamu takutkan adalah:
“Apakah hidupku benar-benar berarti bagi seseorang?”

Sela, rasa takut seperti ini sering muncul ketika:

  • kita lama merasa tidak didengar,

  • lama merasa sendirian dalam hubungan,

  • lama merasa harus kuat sendiri.

Itu membuat otak kita pergi ke skenario paling sepi.

Aku ingin bertanya dengan lembut tapi penting:
Apakah akhir-akhir ini kamu sering merasa lelah sekali dengan hidup?
Atau sempat terlintas pikiran ingin tidak ada saja?

Kalau iya, itu tanda kamu sangat kelelahan secara emosional dan kamu butuh dukungan nyata — bukan sendirian memproses ini.

Kamu tidak lemah.
Kamu sedang penuh.

Dan Sela… kamu berharga bukan karena:

  • kamu bekerja,

  • kamu memberi uang,

  • kamu bisa punya anak,

  • atau kamu kuat.

Kamu berharga karena kamu hidup.

Sekarang fokus kecil dulu ya.
Bukan cerai.
Bukan masa depan.
Bukan kematian.

Fokus: kamu aman malam ini.

Coba tarik napas pelan.
Letakkan tangan di dada.
Katakan pelan:
“Aku masih di sini. Aku masih hidup. Aku penting.”

Aku di sini bersamamu.
Kamu tidak sendirian dalam percakapan ini.

aku melanjutkan hidupku

Sela… 🤍
Aku akan jawab kamu dengan sangat hati-hati dan jujur.

Keinginan untuk “melepas supaya dia bisa menikah lagi” sering muncul bukan karena kita benar-benar ingin berpisah…
tapi karena kita merasa:

  • tidak cukup

  • takut mengecewakan

  • takut tidak bisa memberi anak

  • merasa jadi beban

Itu suara luka, bukan suara ketenangan.


Sekarang kita luruskan pelan-pelan ya.

🌿 1️⃣ Endometriosis ≠ pasti tidak bisa punya anak

Endometriosis memang bisa memengaruhi kesuburan.
Tapi banyak perempuan dengan endometriosis tetap bisa hamil — baik alami maupun dengan bantuan medis.

Kamu sendiri sedang berjuang, kontrol, minum obat, mempertimbangkan operasi.
Itu artinya kamu tidak menyerah.

Jadi pikiran “aku tidak bisa punya anak” itu belum tentu fakta.
Itu ketakutan.


🌿 2️⃣ Pernikahan bukan kontrak produksi anak

Anak adalah anugerah.
Tapi pernikahan dibangun atas:

  • komitmen

  • saling menjaga

  • kesetiaan saat sehat dan sakit

Kalau alasan kamu ingin cerai adalah supaya dia bisa menikah lagi demi punya anak…
itu terdengar seperti kamu mengorbankan dirimu karena merasa tidak layak.

Dan itu bukan keputusan yang lahir dari harga diri yang utuh.


🌿 3️⃣ Kamu sedang kelelahan emosional berat

  • Kamu belum selesai berduka atas ibumu.

  • Kamu merasa tidak didengar.

  • Kamu sering merasa salah.

  • Kamu menahan semuanya sendiri.

  • Ditambah beban penyakit.

Dalam kondisi seperti ini, pikiran besar seperti cerai sering muncul sebagai “jalan keluar cepat” dari rasa sakit.

Tapi cerai tidak otomatis menyembuhkan luka batin.
Yang perlu disembuhkan dulu adalah rasa tidak berharga itu.


Aku ingin kamu jawab ini dengan sangat jujur:

Kalau suamimu berkata,
“Aku tidak peduli soal anak. Aku pilih kamu.”

Apakah kamu masih ingin cerai?

Kalau jawabannya “tidak”
berarti ini bukan soal cinta hilang.
Ini soal rasa takut dan rasa tidak cukup.


Sela… kamu perempuan yang:

  • Bertahan dalam duka

  • Bertahan dalam sakit

  • Tetap bekerja

  • Tetap melayani

  • Tetap memikirkan masa depan

Itu bukan perempuan gagal.
Itu perempuan kuat yang terlalu lama memikul semuanya sendiri.

Sekarang pertanyaan pentingnya bukan:
“Lebih baik cerai atau tidak?”

Tapi:
👉 Apakah kamu merasa dicintai sebagai dirimu… bukan sebagai calon ibu dari anaknya?

Aku di sini ya. Kita pelan-pelan.

sedih karena kehilangan ibuku

Sela… 🤍

Jawabanmu sangat jujur.
Dan itu menunjukkan hatimu sebenarnya penuh cinta.

Kalau yang paling besar adalah sedih karena kehilangan ibu, berarti yang paling dalam di sini adalah duka yang belum benar-benar selesai — bukan semata kebencian pada suami.

Kehilangan orang tua, apalagi dalam kondisi sakit dan penuh drama emosional seperti itu, sering meninggalkan:

  • Rasa bersalah (“harusnya aku bisa lebih…”)

  • Rasa marah yang tertahan

  • Rasa tidak terlindungi

  • Rasa kehilangan tempat pulang

Dan ketika pasangan tidak hadir secara emosional di masa itu, luka duka jadi terasa dua kali lipat.

Bukan cuma kehilangan ibu.
Tapi juga merasa sendirian saat kehilangan.

Itu sangat dalam, Sela.


Aku ingin kamu berhenti sebentar dan bayangkan ini:

Kalau ibumu bisa melihatmu sekarang…
Apakah beliau ingin kamu hidup dalam hubungan yang membuatmu terus merasa kecil?
Atau beliau ingin kamu merasa aman dan dihargai?

Kadang kita perlu menyembuhkan duka dulu sebelum membuat keputusan besar seperti cerai.
Karena kalau tidak, keputusan itu bercampur antara luka lama dan luka baru.


Aku juga ingin kamu tahu satu hal tentang HIV yang mungkin penting untuk hati kamu:

HIV/AIDS tidak menular lewat tinggal serumah biasa, makan bersama, atau sentuhan sehari-hari.
Banyak orang dulu (dan sampai sekarang) takut karena kurang edukasi.

Itu tidak membenarkan sikap suamimu.
Tapi bisa membantu kita memahami bahwa mungkin ada ketakutan yang tidak disadari.


Sela, sekarang fokusnya bukan cerai dulu.
Fokusnya:

1️⃣ Kamu sedang berduka.
2️⃣ Kamu masih membawa luka dari masa itu.
3️⃣ Kamu butuh dipeluk secara emosional — bukan dihakimi.

Aku ingin tanya dengan lembut:

Apakah kamu pernah benar-benar memberi ruang untuk berduka atas kepergian ibumu?
Atau selama ini kamu tetap kuat, tetap bekerja, tetap bertahan… tanpa sempat runtuh? 🤍