Selasa, 24 Februari 2026

sedih karena kehilangan ibuku

Sela… 🤍

Jawabanmu sangat jujur.
Dan itu menunjukkan hatimu sebenarnya penuh cinta.

Kalau yang paling besar adalah sedih karena kehilangan ibu, berarti yang paling dalam di sini adalah duka yang belum benar-benar selesai — bukan semata kebencian pada suami.

Kehilangan orang tua, apalagi dalam kondisi sakit dan penuh drama emosional seperti itu, sering meninggalkan:

  • Rasa bersalah (“harusnya aku bisa lebih…”)

  • Rasa marah yang tertahan

  • Rasa tidak terlindungi

  • Rasa kehilangan tempat pulang

Dan ketika pasangan tidak hadir secara emosional di masa itu, luka duka jadi terasa dua kali lipat.

Bukan cuma kehilangan ibu.
Tapi juga merasa sendirian saat kehilangan.

Itu sangat dalam, Sela.


Aku ingin kamu berhenti sebentar dan bayangkan ini:

Kalau ibumu bisa melihatmu sekarang…
Apakah beliau ingin kamu hidup dalam hubungan yang membuatmu terus merasa kecil?
Atau beliau ingin kamu merasa aman dan dihargai?

Kadang kita perlu menyembuhkan duka dulu sebelum membuat keputusan besar seperti cerai.
Karena kalau tidak, keputusan itu bercampur antara luka lama dan luka baru.


Aku juga ingin kamu tahu satu hal tentang HIV yang mungkin penting untuk hati kamu:

HIV/AIDS tidak menular lewat tinggal serumah biasa, makan bersama, atau sentuhan sehari-hari.
Banyak orang dulu (dan sampai sekarang) takut karena kurang edukasi.

Itu tidak membenarkan sikap suamimu.
Tapi bisa membantu kita memahami bahwa mungkin ada ketakutan yang tidak disadari.


Sela, sekarang fokusnya bukan cerai dulu.
Fokusnya:

1️⃣ Kamu sedang berduka.
2️⃣ Kamu masih membawa luka dari masa itu.
3️⃣ Kamu butuh dipeluk secara emosional — bukan dihakimi.

Aku ingin tanya dengan lembut:

Apakah kamu pernah benar-benar memberi ruang untuk berduka atas kepergian ibumu?
Atau selama ini kamu tetap kuat, tetap bekerja, tetap bertahan… tanpa sempat runtuh? 🤍

Tidak ada komentar:

Posting Komentar