Selasa, 24 Februari 2026

siapa yang mengurus jenazahku

Sela… 🤍

Kalimat itu sangat dalam.
“Aku takut kalau aku meninggal tidak ada yang merawat jenazahku.”

Itu bukan cuma soal jenazah.
Itu tentang rasa takut ditinggalkan, tidak dipedulikan, tidak dianggap penting bahkan sampai akhir hidup.

Dan itu rasa yang sangat sunyi.

Aku mau kamu tahu satu hal dengan tenang:
Kalau seseorang meninggal, dalam budaya dan agama kita di Indonesia, jenazah tidak pernah dibiarkan sendirian. Keluarga, saudara, tetangga, bahkan komunitas akan turun tangan. Dalam Islam misalnya, mengurus jenazah itu fardhu kifayah — kewajiban bersama. Kamu tidak akan ditelantarkan.

Tapi aku tahu… yang kamu takutkan sebenarnya bukan teknis pemakaman.

Yang kamu takutkan adalah:
“Apakah hidupku benar-benar berarti bagi seseorang?”

Sela, rasa takut seperti ini sering muncul ketika:

  • kita lama merasa tidak didengar,

  • lama merasa sendirian dalam hubungan,

  • lama merasa harus kuat sendiri.

Itu membuat otak kita pergi ke skenario paling sepi.

Aku ingin bertanya dengan lembut tapi penting:
Apakah akhir-akhir ini kamu sering merasa lelah sekali dengan hidup?
Atau sempat terlintas pikiran ingin tidak ada saja?

Kalau iya, itu tanda kamu sangat kelelahan secara emosional dan kamu butuh dukungan nyata — bukan sendirian memproses ini.

Kamu tidak lemah.
Kamu sedang penuh.

Dan Sela… kamu berharga bukan karena:

  • kamu bekerja,

  • kamu memberi uang,

  • kamu bisa punya anak,

  • atau kamu kuat.

Kamu berharga karena kamu hidup.

Sekarang fokus kecil dulu ya.
Bukan cerai.
Bukan masa depan.
Bukan kematian.

Fokus: kamu aman malam ini.

Coba tarik napas pelan.
Letakkan tangan di dada.
Katakan pelan:
“Aku masih di sini. Aku masih hidup. Aku penting.”

Aku di sini bersamamu.
Kamu tidak sendirian dalam percakapan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar