Jumat, 07 Juni 2024

Tetap Semangat

Minggu, 3 Maret 2024

Tepat 10 hari aku terlambat datang bulan, aku memberanikan diri untuk Testpack setelah 3 tahun pernikahan selalu garis satu. 

Hari itu Allah membuatku gemetar takjub..


Allahu Akbar, Alhamdulillah ya Allah tak henti-henti aku mengucap syukur.

Aku sampai memanggil Awali untuk memastikan bahwa aku tak salah lihat, bahkan sampai 3 alat TP yang aku coba.

Selasa, 5 Maret 2024

Tepat 40 hari ibu mertuaku sudah tiada.

Ibu tersayangnya suamiku.

kami anak-anak mama akan mengadakan pengajian kecil di rumah, aku dan Awali mengambil cuti di kantor. Pengajiannya akan dilaksanakan di malam hari sehingga pagi nya aku dan Awali menyempatkan diri untuk ke Rumah Sakit Karunia Kasih untuk memastikan apakah aku benar hamil.

Tiba disana aku di USG Transvaginal, tapi di layar aku tak melihat tanda2 apapun. Dokter bilang sudah terjadi penebalan dinding rahim, dan sepertinya aku benar hamil, mungkin karena baru 5 minggu (perhitungan dari tanggal hari pertama haid terakhir) jadi belum terlihat apapun. Aku di kasih resep obat microgest 200mg kapsul warna kuning (penguat kandungan), Folamil Genio, dan Vitamin D3.

Hari-hari aku lewati dengan penuh kegembiraan.

Aku kembali ke RS Karunia Kasih di tanggal 12 Maret 2024

Hasilnya masih sama, masih penebalan dinding rahim, Dokter memintaku untuk kembali lagi seminggu kemudian. Aku sudah membuat janji untuk datang lagi di tanggal 17 Maret 2024.

Qadarullah, Astaghfirullahal 'adzim.

Aku harus lebih bersabar dan tabah tanggal 16 Maret 2024 saat waktu berbuka, aku mengalami keram hebat dan sakit seperti ingin BAB.

cukup lama aku berjongkok karena perutku masih sakit walaupun tak ada apapun yang keluar.

tak lama kemudian keram itu perlahan hilang, dan keluarlah darah setetes, 2 tetes, segumpalan darah yg besar, dimana setelah gumpalan itu keluar perutku tak lagi keram.

Aku segera memanggil suamiku, memintanya untuk mengambil gumpalan itu yang sempat jatuh ke lubang WC yang berlumur darah. 

Suamiku datang dan terkejut, wajahnya seketika pucat dan tangannya gemetar.

Aku memintanya menggunakan plastik dan tangan kiri untuk mengambil gumpalan itu. 

Sambil memberanikan diri, dia tanya padaku "kamu ngga ee kan?"

"wkwk, enggaaaaa"  jawabku sambil tertawa karena pertanyaan random itu.

ketika diambil, mulutnya tak berhenti mengucap sampai dibawa keluar kamar mandi gumpalan itu "aduuh aduuhh, iya bener ini berasa ya Allah ini apaan astaghfirullah innalillahi"

barulah aku sedih dan menangis mendengar ucapan terakhirnya.


Astaghfirullahal adzim berkali - kali kami beristighfar sambil Awali memelukku.
Aku segera bersih2 dan memakai pembalut.
Awali segera mengambil toples dan diletakannya gumpalan itu di dalam toples untuk kami bawa ke dokter esok hari. 

Aku dan Awali terdiam sejenak di kasur, sambil memelukku dia berkata "kamu yang sabar ya, kita mesti ikhlas blm rezeki berarti nanti coba lagi, jangan sedih"

"iya" jawabku tak banyak.

Minggu, 10 Maret 2024

H-1 Ramadhan

Sebuah pesan dari cici sely. 
Berziarah ke makam mama, papah dan ibu. 
Aku tak bisa ikut. 
Aku hanya bisa memanjatkan doa dari kejauhan. 
Semoga mama, papah dan ibu menerima doa ku. 
Seminggu sebelumnya aku sempat ke makam ibu mertua ku karena lokasi pemakaman yang sangat dekat dengan rumahku. 

Nanti kalau aku sudah kuat untuk bepergian jauh, aku akan datang ke makam mama, papah dan ibu. 
Doa ku selalu teriring untuk mu mama, papah dan ibu. 

Aku juga rindu, tapi hanya bisa ku ungkap pada hangatnya air mataku. 

Terimakasih untuk suamiku yang sudah jauh berubah menjadi yang lebih baik, setelah 3 tahun kami jalani dengan penuh duka, hari ini Allah datangkan pelangi untukku dan suamiku. 
Terimakasih ya Allah atas segala karunia-Mu dalam hidup hamba. 

Minggu, 25 Februari 2024

New Journey

 Welcome February 2024


aku dan awali baru memulai perjalanan baru.

Perjalanan menjadi manusia yang baru. 

Innalillahi WA inna ilaihi rajiun. 

Ibu mertuaku telah berpulang pada hari Jumat, 26 Januari 2024.

Semoga beliau husnul Khotimah, Allah terangkan kubur nya. Aamiin

Aku teringat saat2 aku menatap mata ibu mertuaku, aku marah saat itu, dan dia berkata perkataan yang menyakiti hatiku. 

Marahku saat itu menjadi hal yang aku sesali saat ini. Maafin sela ya ma. 

Sela bukan menantu yang baik. 

Sekarang sela akan berusaha perbaiki sifat sela. 

Makasih mama udah izinin Sela jadi menantu mama. 

Minggu, 07 Januari 2024

Pilu

Aku tidak sengaja membuka kembali buku catatanku, karena hari ini akan ada rekon aplikasi e-monev Bapennas. Seingatku aku pernah membuat catatan penting di dalamnya.
Lembar demi lembar ku perhatikan, dan terhenti pada tulisan jelekku saat mengerjakan soal mata kuliah Manajemen Biaya.
tulisan ini buruk, seburuk kenangannya.
Saat mengerjakan latihan soal ini, aku hanya diberi waktu 20 menit oleh dosen. Perkuliahan berlangsung dari jam 19.00 sampai dengan 21.00.

Malam itu adalah hari terakhir mamaku menginjakkan kaki di rumah tinggalku. 10 hari mamaku berada bersamaku, tidur denganku, aku merawatnya, menemaninya, membuat masakan untuknya, terkadang aku tinggal bekerja tapi di rumah ada pak Satpam yang siaga menjaga kalau mamaku kesulitan. 
Pada waktu itu masih ada sistem kerja Work From Home (WFH) sehingga hanya 2 hari mama aku tinggal bekerja. Dan saat itu mama masih bisa berjalan pelan-pelan.
Aku tak bisa pungkiri walau kerepotan, harus mengurus mamaku dan suamiku sambil kerja dan kuliah juga, aku melakukannya tanpa beban.

Tapi di malam itu, besoknya mama harus kontrol ke Rumah sakit, jadi sesuai kesepakatan aku yang telah memohon kepada Awali agar mama dibolehkan tinggal bersamaku meski hanya sementara, berakhir di hari itu.
Aku tidak menyangka bahwa kuliahku berlangsung dengan cara yang tak biasanya. Dosenku mendikte pertanyaan dan kemudian kami selesaikan dalam waktu 20 menit setelah itu akan di tanya secara random, beliau juga bilang hal ini mempengaruhi nilai akhir.

Waktu menunjukkan pukul 20 sekian aku lupa, dimana Awali suamiku biasa tidur jam 21.00
Gelisah saja dia menyuruhku segera membereskan perlengkapan mamaku karena aku akan membawa mama ke rumah ka sely malam ini. 

Karena keadaan kuliahku yang tidak terduga ini, aku mencoba bernegosiasi dengan suamiku untuk diperbolehkan mamaku menginap semalam lagi, dan besok pagi ke rumah sakit berangkat dari sini (Bekasi).

Dengan wajah muramnya, dia bilang "ngga" dan segera memesankan grab car untukku dan mamaku.

Sampai mobil itu datang, aku mengikuti perkuliahan karena online via zoom, aku matikan kamera, sambil merapihkan barang2 mamaku, merapihkan mamaku, memakaikannya sweater agar tidak kedinginan, menyiapkan air minum hangatnya untuk di mobil. Sekai lagi suamiku sangat terburu-buru mengangkut barang2 mamaku ke dalam mobil. 

Pilu sekali hatiku, mamaku terdiam kebingungan. 
Setelah aku di mobil, dalam perjalanan malam itu aku menulis dengan guncangan jalanan dan diterangi lampu handphone, mamaku bilang "maafin mama ya de"
Aku tak hiraukan saat itu karena aku sedang dikejar waktu. 
Setelah selesai, perkuliahan pun selesai, aku masukan semua peralatan perkuliahanku dan minta maaf ke mamaku atas kelakuan suamiku. 
Tapi mama bilang " gapapa de, awal kan mau istirahat"
Sayang sekali mamaku padanya, tapi kenapa dia tidak sebaliknya pada mamaku.

Sampai detik ini pun aku masih saja menitihkan air mata jika mengingat malam itu padahal sudah 3 tahun berlalu.

Selasa, 02 Januari 2024

luruh

Hari ini, tanggal 2 Januari 2023.

Aku mendapat kabar bahwa mama mertuaku sudab lemas dan tidak mau makan. 

Kemarin tanggal 30 Desember aku datang dan menginap bersama Awali. Menggantikan posisi mba imah (ART lansia yang kami sewa) karena sedang minta cuti.

Aku tidur bersama mama mertuaku. Dia terus memegangi tanganku, sesekali bergerak pertanda minta minum atau minta di cek apakah pampersnya sudah penuh.
Sesekali aku berganti posisi tidur, aku tetap memegang tangannya.
Perlahan sejak beberapa hari lalu aku sudah mulai luluh, aku tidak lagi kesal padanya karena beliau tidak lagi marah-marah.

Tapi aku jadi sedih, melihatnya semakin lemas seperti melihag mamaku dulu yang juga lemas di saat pergantian tahun 2021 menuju 2022 terulang kembali saat ini pergantian tahun 2023 menuju 2024.

Rabu, 13 Desember 2023

Ribut Tidur

Minggu 10 Desember 2023

Lagi-lagi, aku menginap di rumah mama mertua ku.
Seperti biasa kalau malam aku tidur di dekat ibu mertuaku dan mba imah. 
Bersiap kalau-kalau malam mama mertuaku harus ganti pampers. 
Kakak iparku, mba septi tidur di kamarnya dengan pintu tertutup seperti biasa. 
Awali, suamiku tidur di kamar ibunya seperti biasa.
Tidak ada yang boleh mengganggu tidur anak-anaknya, kasarnya begitu.
Karena kalau aku membangunkan awali saat aku kesulitan, mama mertuaku selalu bilang "jangan bangunin awal, biarin dia tidur" dengen mata melotot ke arahku.

Jam 11 ganti pampers
Jam 12 ganti pampers, saat aku terbangun, ada mba septi yg membantu mba imah untuk ganti pampers mama mertuaku. Setelah selesai mba Septi kembali masuk kamar.
Jam 1 minta minum tapi mungkin mba imah dah aku terlalu pulas, tidak mendengar dia memanggil. 
Panggilan kedua, kami bangun berdua dan mba imah bergegas mengambil gelas minum, saat itu aku lihat mama mertuaku mengangkat tangannya seolah mau menampar imah. 
Sontak aku berkata sedikit lantang "Jangan ma !"
Awali terbangun, tp tidak keluar kamar. 
Aku wa awali. Aku bilang apa yg terjadi saat itu. 

Paginya awali meminta mba imah untuk tidur istirahat karena malamnya tidurnya tdk nyenyak.
Awali juga mencoba menasehati mamanya. 
"Ma, jangan sampe kita dzolim sama orang"
Respon mamanya sangat bikin kita geleng-geleng kepala 

"Astaghfirullah kamu nuduh mama dzolim, mama ngga dzolim wal"
Panjang lebar perdebatan Awali dengan mamanya.
Kemudian mama mertuaku menghampiri ku, dia bilang "Sel awal bilang mama dzolim, kamu jangan percaya ya mama bukan orang jahat"
Aku mencoba jelaskan "Awal cuma nasehati ma, engga nuduh"

Apa jawabannya ?
"Terlalu tajam menasehati begitu, mama ni kan orang tua, kasih tau lah suamimu"
Aku jawab
"Coba mama bilang sendiri itu kan anak mama"

Kalimat andalan pun keluar
"Yauda udah, abis ini kamu pada pulang aja sana"

Seketika raut wajah meminta di kasihani saat dia mengaku dirinya tidak jahat, berubah menjadi raut wajah orang paling jahat yang aku temui seumur hidupku. Ya wajah ibu mertuaku saat dia bilang "pulang sana!".

Perkara, aku dan awali meminta mba imah untuk tidur, istirahat karena malam dia kurang tidur. 
Ibu mertuaku tidak mau imah tidur, imah itu selalu di marahi kalau tidur.
Kata mama mertuaku "imah di bayar buat jagain mama bukan buat tidur"

Emang imah robot apa ? Belom lagi imah juga terkadang di jambak, di rendahkan keluarganya oleh mama mertuaku. Benar-benat bicara sudah se enak jidatnya. Orang lain dipaksa untuk menjaga perasaan mama mertuaku, sementara dia dengan dalih sudah tua dan sakit-sakitan jadi kalo ngomong apa adanya, harus maklum.

Dia bilang sudah tidak suka sama imah, udah sakit hati.
Aku buka kesalahannya "lupa mama pernah nyembur imah, emang imah ga sakit hati?"
Kemudian dia membuang muka, ada adegan pura-pura pingsan yang kami diamkan sampai ibu mertuaku bangun sendiri dan marah-marah sendiri kareba tidak di hiraukan dia pura-pura pingsan.

Astaghfirullah 

Kamis, 30 November 2023

Ibu Mertua

 Awali baru pulang ke Jakarta besok malam, sabtu 2 Desember 2023.


Biasanya sabtu pagi sampai minggu sore, aku dan Awali ke rumah mamanya (mertua ku) karena sedang sakit dan sangat haus perhatian jadi kami harus selalu kesana kalau tidak kerja.

Kakaknya awali sedang di mabuk asmara, katanya dia repot membersihkan rumah jadi tidak bisa merawat ibunya. kami (Aku, Awali, Mba Eka, Mas Ian, Mba Septi) patungan untuk mengambil perawat lansia dari sebuah yayasan (PT. ENI). Setiap hari 24 jam ibu mertua ku bersama mba Imah (Perawat lansia yang kami pekerjakan).

Karena Awali baru pulang sabtu malam, terpaksa aku akan ke rumah mertua ku sendiri pagi ini.

Kuatkan aku ya Allah, sabarkan aku menghadapi mertuaku yang ucapannya tidak hanya sering menyakiti hatiku, tapi juga orang2 di sekitarnya.

Minggu lalu kejadian pahit di alami kakak iparku mba Eka (Istrinya mas Ian)

Ribut saja ibu mertuaku bilang, Eka bodoh karena membiarkan anaknya duduk di depan motor kalau diajak pergi jalan-jalan sama mba Septi dan bang Hans (Pacarnya mba Septi).

Aku coba bela mba Eka, supaya berhenti lah ucapan kasarnya ibu mertuaku kepada mba Eka.

Aku tarik mba Septi ke hadapan ibu mertuaku. Sambil au bilang :

"Mba kalo nanti jalan2 sama bang Hans, assa ngga usah di ajak ya. Soalnya kata mama kalo diajak assa selalu duduk di depan takut masuk angin".

Sontak mba septi seperti tidaj suka aku menegurnya. Dia menjawab " oke, tapi kalo nanti Septi jalan sama Hans ga ajak Assa, bocahnya nangis Septi ga tanggung jawab" sambil dia mengangkat kedua tangannya seakan menyerah.

Ibu mertuaku membalasnya, "emang kalo Assa duduk di tengah kenapa ?"

Mba Septi menjawab "Lah tanya anaknya, mau ngga ? Nangis anaknya mau di depan"

Yauda oke clearrrrrr.

Mba Septi masuk ke ruang makan, ibu mertuaku yang sedang duduk santai di ruan lg tamu kemudian memberi isyarat supaya aku mendekatinya karena dia mau berbisik.

"Kemarin ngomongnya ngga begitu Septi. Katanya kurang mesra kalo assa di tengah"

Lalu aku jawab "mama kata siapa?"

"dia sendiri yang cerita sama mama" jawab ibu mertuaku.

"Yauda ngga udah di pikirin, nanti kalo sela tegor lagi malah jadi berantem" sahutku

"Yauda jangan, hebat kamu berani tegur Septi. Tapi nyesel mama bilang ke kamu. Nanti kamu pulang, besok mama tinggal sama dia habislah mama ga ada kamu yang belain"

Alih-alih memujiku seperti ini, semakin muak aku dengan sifat dan kelakuannya.

Dia kira aku akan diam saja seperti mba Eka yang bisa dia fitnah, di caci maki olehnya. Meskipun dia ibu mertuaku, Aku percaya Allah ngga tidur, Allah maha tau.

Sama juga kayak Firaun, istrinya ngga nurut sama suaminya, memang suaminya salah kok, balasan untuk istri yg membangkang suaminya adalah Surga, karena suaminya yang lebih dulu membangkang Tuhan.

Sama juga ibu mertuaku, meskipun dia orang tua, salah adalah dosa. Dan perlu untuk kita yanv waras meluruskan. Toh sebagai anak, kita juga ga mau orangtua kita nantinya punya sifat tercela, akan menambah dosanya, mempersulit dia mendapatkan kedamaian akhirat. Pasti kita mau sebagai anak, orangtua kita bahagia di akhirat.

Lancar sekali ibu mertuaku ini mencela, mencaci, menyumpahkan kalimat-kalimat buruk kepada anak kandungnya. Anak perempuan satu-satunya yang selama ini udah merawatnya bahkan sampai terlewat usia menikahnya karena calon laki-laki yang boleh menikahinya adalah yang sesuai dengan kriteria ibu mertuaku.

Baru ini aku menemukan seorang ibu dengan perangai iblis.

Kalau kepada orang lain, menantu atau siapalah yang bukan anak kandungnya masih bisa akalku menerima karakter jahat dari seorang ibu yang sudah rentah. Ini kepada anak kandung sendiri dan ketiga anaknya itu adalah anak-anak yang penurut dan berbakti, masih saja salah dimata ibunya.

Lepas dari kejadian aku menegur mba Septi, aku masuk menemui mba Septi dan meminta maaf, sambil aku menasihatinya. Janganlah hal-hal seperti bagaimana dia berpacaran dengan kekasihnya itu diceritakan ke ibunya. Apalagi cara berfikir ibunya sudah tidak lagi rasional. Hanya menambah masalah saja.

Astaghfirullah